Pandangan dan Harapan Pasca Pemilu Legislatif
Partai Demokrat walau belum resmi tapi bisa dipastikan akan menjadi pemenang pemilu 2009 ini. Dan yang mencengangkan dari kemenangan itu sendiri adalah persentase suara Partai Demokrat yang naik sangat besar dan tajam. Dimana Partai Demokrat (selanjutnya aku sebut aja “Demokrat”) mampu meraih lebih dari 20% suara.
Kemenangan Demokrat ini tidak bisa dipungkiri adalah karena besarnya pengaruh dari sosok SBY, hal itu terlihat sendiri waktu aku ikut mencontreng dan melihat proses penghitungan suara di TPS tempat aku melakukan pemilihan. Dimana suara yang didapat oleh Demokrat bukanlah suara hasil contrengan atas nama/no urut caleg, tapi suara hasil contrengan tanda gambar partai. Dimana orang memilih Demokrat karena sosok SBY dan bukan sosok calegnya. Karena mereka tidak kenal dengan para caleg dari Demokrat, hal itu selain pandangan aku sendiri juga aku tangkap dari pembicaraan beberapa orang bahwa masalah calegnya biarin aja partai yang memilih.
Lalu dibalik kemenangan Demokrat ini sekarang yang menjadi topik baru melihat dari hasil suara adalah siapa nanti yang bakal jadi calon pendamping SBY. Karena dengan menjadi pemenang pemilu legislatif serta persentase yang mencapai 20%, secara teori Demokrat bisa mengajukan nama SBY sebagai Presiden walaupun tanpa berkoalisi dengan partai lain. Tapi hal itu tentulah tidak mungkin, karena akan membawa masalah nantinya bagi SBY dalam menjalankan pemerintahan apabila menang Pilpres.
Calon potensial yang cocok bagi SBY mungkin Petinggi dari PKS yaitu Hidayat Nur Wahid (aku sebut aja HNW, maaf sama pak Hidayat Nur Wahid gak ada maksud apa2 kecuali supaya gampang nulisnya karena namanya lumayan panjang), yang mana PKS sendiri jauh2 hari terlihat sudah ok untuk berkoalisi dengan Demokrat. Bahkan kalo kita dengar dari pandangan mereka tentang koalisi yang mereka inginkan sama. Koalisi yang jelas dan pasti, bukan koalisi setengah hati seperti yang terjadi sebelumnya.
Hal ini aku katakan karena memandang figur HNW yang selama ini terkenal cukup bersih dan tenang dalam mengahadapi masalah ataupun isu-isu politik. Tapi mungkin yang jadi persoalan menurut para elit adalah apabila Demokrat berkoalisi dengan PKS serta nantinya Golkar dengan JK-nya berkoalisi dengan PDIP (yang sudah pasti bakal tidak mungkin berkoalisi dengan Demokrat) serta ditambah Gerindra plus PPP dan mungkin Hanura (karena gw liat tadi berita Wiranto berkunjung ke rumah Ketum PDIP), maka bila SBY yang memerintah akan menimbulkan sedikit masalah.
Tapi dari sudut pandang aku secara pribadi, mending SBY tidak menjadikan HNW sebagai cawapres. Bukan karena aku tidak suka dengan HNW aku suka dan mengagumi beliau. Tapi aku yang berada diposisi masyarakat awam melihat bahwa HNW beda tipis ma SBY. Terlalu tenang dan sedikit santai, sementara lawan-lawan politik SBY yang sudah pasti (yang kita sudah tahu 2 partai yang sudah mengindikasikan tidak mungkin berkoalisi dengan Demokrat) adalah partai-partai yang suka bergerak cepat baik dalam memanfaatkan peluang maupun menciptakan opini. Maka SBY membutuhkan juga pendamping yang bisa mengimbangi “permainan” dari lawan-lawan politiknya tersebut. Dan jujur aku akui (walau aku sendiri lebih respek pada HNW) tapi JK merupakan pendamping yang sepadan dan paling memungkinakan bagi SBY dalam menghadapi lawan2-nya itu.
Sementara kalo dalam harapan dan mungkin mimpi aku sendiri, maka aku bermimpi bahwa yang menjadi RI1 dan RI2 adalah SBY dan Wiranto. Aku respek ma Wiranto karena ketegasannya yang mungkin sedikit kurang kelihatan pada SBY. Tapi kelihatannya itu adalah sebuah mimpi siang bolong, karena apakah mungkin Wiranto bersedia jadi RI2 dibawah orang yang dahulunya adalah bawahannya, belum lagi dengan sejarah masa lalu (yang katanya pengamat memiliki perbedaan atau permasalahan). Lalu ada masalah pada status keduanya yang merupakan mantan petinggi militer yang gak tau kenapa terkadang sering dijadikan alasan oleh beberapa orang.
Tapi dibalik semua itu, aku sebagai warga negara dan masyarakat awam hanya bisa berharap semoga para pemimpin di negeri ini dalam memutuskan arah politik mereka juga mempertimbangkan kondisi negara dan masyarakat atau rakyat banyak. Jangan hanya memenuhi ego mereka atas kekuasaan, sehingga mereka merasa bahwa negeri ini hanya milik mereka. Sehingga bakal se-enaknya aja meraih kekuasaan dengan cara apapun serta berjanji berbagi kekuasaan itu nantinya. Dan masyarakat atau warga negara lainnya yang “kecil-kecil” mereka anggap hanya sebagai pion atau mungkin tidak mereka anggap ada ketika beripikir cara mendapatkan kekuasaan.
Sehingga nantinya Indonesia yang kita harapkan dan impikan, Indonesia sebagai Negara Besar yang Maju, Makmur, Sentosa, Adil dan Bersatu serta lain-lainnya yang baik bisa terwujud. Hidup Indonesia, Merdeka !!!
Related posts:




